SLIDE

Recent Tube

jalan - jalan

NEWS SCROLL

Favourite

Event

Culture

Gallery

pkbn


pkbn kami

sakitnya tuh di sani



sakitnya tuh di sani

KODING-KODING

.post h1.post-title a,.post h2.post-title a{text-decoration:none;display:block;color:#}
.post-body{margin:0 0 .75em;line-height:1.3em;font-size:16px}
font tampilan dalam

<b> koding huruf besar </b>

#main-nav{background:#2c2c2c;margin:0 auto;height:55px;border-bottom:5px solid=navigasi abu-abu

h1,h2,h4,h3,h5,h6{color:#000;line-height:1.27;font-family:"Oswald",Helvetica,Arial,sans-serif;font-weight:normal}
font tampilan luar

.footer-widget-top{border-bottom:3px solid #000;padding:10px 0} warna footer

20px;height:240px;overflow:hidden;width:32%;background:#000;color:#f5f5f5;z-index:99} warna hitam dislider

.inter .widget h2{position:relative;font-size:17px;color:#000;padding:5px 10px;text=judul font widget

.comments .comments-content .comment-content {  text-align:justify;line-height: 1.7em;= spasi komen bawah yg renggang

.head_brnews{height:32px;background:#000000;width:100%;border-top:4px solid= hearernews warnanya



#E2E2E2

Makna Seorang Teman

Tulisan ini ku persembahkan untuk sahabat elmunish678 yang sudah lama kita tak berjumpa, semoga kelak kita dipertemuakan ketika sudah menjadi orang sukses. Amiin

Pada suatu sore (24/02) sebelum beranjak menuju kamar mandi, sejenak ku menatap ke arah handphone nokia jadul yang ku beli tahun 2010 lalu. Ternyata ada pesan satu yang masuk, ku tekan tombol pling kiri sebelah pojok atas, ternyata setelah ku lihat SMS [Short Message Sending] tersebut dari Suci Hati, teman sekelas sekaligus satu kecamatan ketika  sekolah di Madrasah Aliyah. Isi pesan itu cukup singkat kira-kira berbunyi seperti ini, “ass,, pie kabare tmen2 smua??” 

Sekilas pesan itu sangat pendek, tidak terlalu bermakna atau bahkan tidak berguna sama seklai. Tetapi menurut kaca mata saya, pesan ini sangat dalam, menyimpan beribu-ribu makna yang sangat-sangat penting. Bisa saja ketika pesan itu dikirim, sang pengirim sedang merasa kesepian karena butuh teman untuk mengobrol, bercanda dan lain sebagainya.

Bahkan pasan ini dapat memiliki makna yang begitu besar ketika dua sahabat yang sduah lama tidak bertemu karena terpisah oleh jarak, kesibukan, bahkan karena sudah memiliki keluarga sendiri. Teman, ialah orang yang begitu berjasa ketika hidup ini merasa sunyi, sepi dalam keheningan, teman bisa dianggap melebihi keluarga bahkan teman dapat menggantikan posisi orang tua sendiri.

Begitu besar arti teman dalam kehidupan, tak terbayang jika ada orang yang dalam kehidupannya tidak memiliki teman. Seorang istri tak lain merupakan teman hidup bagi suaminya, yang selalu menemani dan menjadi tempat berbagi dikala susah maupun senang. Teman yang sejati adalah teman yang setia menemani apapun kondisinya, dikala senang tetap bersama dan begitu pula ketika masalah menimpa. “Mawaddatu ash-shodiqi tadzharu waqta adh-dhiqi” artinya : kecintaan seorang teman itu akan terlihat pada saat kesulitan.

Seorang teman merupakan cerminan dari temannya yang lain, pepatah yang sering kita dengar adalah “jika ingin mengetahui seseorang seperti apa dan bagaimana sifat dan kelakuannya, maka lihat saja siapa temanya.” Sudah sangat jelas, jika teman yang baik akan memberikan dampak yang baik terhadap teman yang lainnya. Tetapi jika teman itu “tidak baik” hanya akan menjerumuskan dirinya kepada hal-hal yang buruk.

Pepatah yang familiar kita dengar “berteman dengan pedagang minyak wangi otomatis akan kebagian wanginya.” Sudah bukan rahasia umum lagi jika berteman dengan berperilaku bejad/buruk tentu akan terbawa buruk, dan begitu sebliknya.

Memilih Teman
Bergaul dengan memilih teman itu harus dilakukan, karena demi kebaikan serta manfaat yang akan diperoleh nantinya. Kenapa harus milih-milih teman? Jawaban sederhananya adalah ketika membeli sebuah barang tentu ada proses memilah dan memilih, barang yang lebih bagus, besar dan lualitasnya baik itu yang dipilih. Tujuan dari memilih itu adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal, tahan lama, awet dan kuat, tetapi jika asal dalam membeli tentu yang ada bisa jadi “kecolongan” dalam artian baranganya ada yang rusak, penyok yang jelas membuat sang pembeli merasa dikecewakan.

Sebetulnya ketika berteman itu tidak mesti memilah dan memilih, jika posisi pertahanan sudah kuat, atau dengan kata lain kita sudah betul-betul matang. Tidak akan bisa terpengaruhi oleh orang lain lagi, dalam hal ini adalah teman. Kemudain memiliki ketegasan serta komitmen yang kuat terhdapa ajakan yang menyimpang. Jika teman berbuat salah maka ia kita salahkan, dan mengatakan tindakan yang teman kita lakukan itu salah. “Qul al-haqqo walau kẩna murron”

Bukan malah karena ia teman kita, ketika ia salah tetap dibela dan kemudian malah mendukung teman yang salah akhirnya menyalahkan orang lain yang berada diposisi yang benar, justru ini yang nambah masalah.

Teman yang baik adalah yang mengajak kepada kebaikan, tetapi jika teman malah menjerumuskan dan mengajak kepada hal-hal yang tidak baik, maka sesungguhnya ia adalah musuh. “Khairu al-ashẩbi man yadulluka ‘ala al-khoiri” artinya : sebaik-baiknya teman adalah yang menunjukan kepada kebaikan.

Mendapatkan Teman
Tidak ada gading yang retak, tak ada manusia yang sempurna, kalo gak salah, istilah bahasa inggrisnya no body one is perpect. Ya, kata-kata itu paling tepat untuk diungkapkan. Mencari teman yang sempurna tentu tidak ada, walaupun dicari hingga ke ujung dunia pastilah tidak akan bertemu, karena setiap manusia memiliki sisi kelemahan dan kekurangan.

Pepatah arab mengatakan “Man tholaba akhon bilẩ ‘aibin baqiya bilẩ akhin” artinya : siapa saja yang mencari teman yang tidak bercela maka ia tidak akan mempunyai teman selamnya. Karena lantaran temannya tidak baik terus kemudian memilih untuk tidak  mempunyai teman. Tentu sikap seperti ini salah, alangkah lebih baiknya jika tetap berteman, dan saling mengingatkan ketika teman melakukan kesalahan ataupun sebaliknya. “Watawa soubi al-haq..”.  saling mengingatkan dalam kebenaran.

Teman yang saat ini kita miliki, jaga dan sayanghilah mereka. Sejauh jarak memisahkan, sewaktu yang memisahkan, bukanlah halangan untuk terus menjaga teman nan jauh disana. Ia merupakan keluarga, tatkala merangkai sejarah perjuangan hingga semuanya kini hanya berupa kenangan indah yang tak dapat dilupakan. Kelak ketika semuanya telah mencapai kesuksesan, semoga anak dan cucu kita kembali mengulang sejarah kita ini. Amiin

Sumber Bacaan
Akbar Zainudin, 10 Jalan Sukses Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada, Bandung: mizania. 2011 

Egois Siapakah Dia?


Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Dalam kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia, kata egois yang berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa online,  egois berari tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, ketika ada orang yang selalu ingin menang sendiri kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melaukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit yang memusuhinya pula. Ketika belum lama berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah ia tahu bahwa temannya itu memiliki sifat egois, bisa jadi ia menjaga jarak atau memilih tidak menjadi temannya lagi.

Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh sebuah keluarga. Biasanya, ketika masih  menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Juga Pernah Egois
Semua manusia pernah egois, tetapi dalam perakteknya kadang secara sadar ataupun tidak sadar. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas: “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum.

Dia masuk ke dalam majlis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut. Akhirnya allah menurunkan surat ‘Abasa [80] : 
Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah SAW akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Allah SWT begitu halus mengingatkan rasulullah ketika beliau sedikit saja melakukan kesalahan karena menurut rasulullah melobi para pembesar quraish lebih penting dibandingkan dengan Ummi Maktum.

Apakah anda tipe orang egois?
Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; pertama, mendustakan ayat-ayat allah. Kedua, ingin menang sendiri. Ketiga, Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Keempat, Keras kepala.

Pertama,mendustakan ayat-ayat allah swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk islam. Padahal agama islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah allah maka termasuk kedalam orang-orang egois. misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang allah perintahakan, serta tidak menianggalkan apa yang allah larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.

Pengertian egois yang dimaksud disini mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman allah swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah allah swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja allah mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

Kedua,ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila memiliki teman yang seperti ini, sedini mungkin untuk diiangatkan sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya maka siapa lagi.

Ketiga,Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mempu memimpin anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin.

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

Keempat,keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah fir’aun, dan akhirnya Allah swttenggelamkan fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allah swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh.

Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena benar-benar alami, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Dan sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egoisme dari dalam diri manusia. Setiap orang pasti pernah bertindak egois, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, sebabnya Rasulullah SAW bersabda : " Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?"Rasulullah berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena bisa di lihat, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang buruk. Amarah, dendam, benci adalah contoh sifat manusia yang buruk. Begitu juga dengan egois.

Maka sebenarnya mau tidak mau kita secara tidak langsung juga berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kita lah yang mampu melawan itu semua, dan  iman kita lah, sebenarnya obat untuk melawan egois itu sendiri.

Abu  Bakar Al-Warraq berkata :“Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan allah swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu dalam bimbingan-NYA. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan allah swt. Amiin [amr]

Amir Hamzah
divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat

Berbuat Baik Terhadap Tetangga


Artinya : “.......dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisa [04]:36)

Suatu ketika, saat sedang lahapnya menyantap makan siang, tiba-tiba ada pengemis datang menghampiri. Apa yang akan dilakukan? Apakah membiarkan pengemis tersebut menadahkan tangan disertai dengan ‘pekikan’ suara meminta. Ataukah langsung memberi pengemis, tetapi dengan memperhitungkan uang yang akan diberikan. Ataukah langsung memberinya, tanpa perhitungan dengan jumlah uang yang diberikan kepada pengemis tersebut. Dari ketiga opsi di atas, manakah yang menggambarkan diri kita?

Seberapa besar rasa peduli kita terhadap sesama manusia? Berapa besar manfaatkah diri kita untuk orang lain? Serta berapa berartinya diri kita bagi orang lain? Dengan analogi di atas bisa menjadi tolok ukur untuk mengetahui sejauh mana kepedulian, kemanfaatan dan ke-berartian diri kita terhadap orang lain. Untuk menguji hal tersebut, yaitu bisa diukur dari hal yang terkecil, misalnya dengan tetangga.

Siapakah yang dimaksud dengan tetangga? Tetangga adalah orang yang terdekat dalam kehidupan, tidaklah kita keluar dari rumah melainkan  melewati rumah tetangga. Di saat kita  membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil, maka tetangga lah orang pertama yang kita ketuk pintunya. Bahkan di saat kita tertimpa musibah, misalanya meninggal dunia, bukan kerabat jauh yang diharapkan membantu, tetapi tetangga lah yang dengan tulus bersegera menyelenggarakan pengurusan jenazahnya.

Seberapa dekatkah kita dengan tetangga? Kedudukan tetangga di mata Islam sangat tinggi. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesempurnaan keimanan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir dengan sikap memuliakan tetangga, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari no. 6019, dari sahabat Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu)

Sungguh mulia dan besar kedudukan tetangga.  Allah swt memasukkannya di dalam sepuluh hak yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sebagaimana firman Allah SWT, artinya: “..... Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa` [04]:36).

Berbagi dengan Tetangga 
Dalam keseharian beraktifitas tentu tidak terlepas dari tetangga. Entah itu untuk bertegur sapa, ngobrol atau bahkan meminjam barang yang tidak kita miliki, misalnya cangkul atau lain sebagainya. Dalam hal pinjam meminjam dalam kehidupan bertetangga merupakan hal yang lumrah, apalagi untuk meminjam barang tersebut dengan tujuan untuk  mengambil manfaat dari barang tersebut.

Bisa dibayangkan apabila tetangga yang kita kurang dermawan alias pelit. Jika kita perhatikan hadits nabi yang berbunyi : Dari Abu Zar ra, katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abu Zar, jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan saling berjanjilah dengan tetangga-tetanggamu – untuk saling beri-memberikan”. (HR Muslim)

Dari hadits di atas jelaslah, bahwa adab dalam bertetangga adalah saling memberi. Dermawan serta tidak perhitungan ketika memberikan pertolongan terhadap tetangga yang membutuhkan. Mungkin disekeliling kita terdapat tetangga yang demikian, tetapi sebagai tetangga yang baik dan mengerti betul akan adab bertetangga tentu tidak selayaknya untuk membenci apalagi membuat merasa tidak nyaman untuknya, melainkan terus mengingatkan secara santun dan cara yang baik pula.

Dari hadits di atas, jelas kita dianjurkan untuk berbagi dengan tetangga, saling memberi makanan dan lain sebagainya. Selain itu, berbagi makanan dapat menambah akrab serta eratnya tali silaturahmi antar tetangga. Untuk itu ketika memiliki makanan yang lebih dianjurkan untuk berbagi dengan tetangga yang lebih dekat pintunya.

Dengan berbagi, itu menandakan bahwa kita peduli serta menjaga tali silaturahmi dengan tetangga. Rukun dalam bertetangga itu sangat dianjurkan seperti dalam sebuah syair tanpo waton : Kelawan konco, dulur lan tonggo, Kang padha rukun ojo ngasiho…. Iku sunnahe rasul kang mulyo nabi Muhammad panutan kito...”. 

Memberikan Kenyamanan 
Menyakiti tetangga adalah sebuah kejahatan yang sangat diharamkan dalam Islam. Diriwayatkan oleh Abu Syuraih, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapa orang itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR. Bukhari)

Memberi perlindungan bagi tetangga yang lain dari sesuatu hal, misalnya saja pencurian, penipuan dan lain sebagainya adalah anjuran Islam. Sudah jelas bahwa Rasulullah SAW mengulang kalimatnya sampai tiga kali bagi siapa yang membuat rasa ketidaknyamanan bagi tetangganya. Untuk itu, ketika kita mengendari mobil, motor bahkan menyetel musik sebaiknya sekedarnya saja, bisa jadi ada tetangga yang merasa terganggu dengan suara gaduh tersebut.

Dikisahkan ada seorang ‘abid yang mempunyai tetangga non-muslim. Sang tetangga memiliki kamar mandi di atas rumahnya, dan bocor.  Sehingga air merembes masuk ke dalam rumah muslim tersebut.
Setiap hari Ia selalu menadahi air yang berasal dari kamar mandi tetangganya dengan ember. Suatu ketika seorang ‘abid ini sakit parah, dan tetangga non-muslim pun menjenguknya. Ketika sang tetangga ini memasuki rumahnya, sang tetangga tahu bahwa air yang menetes itu berasal dari kamar mandinya. Ia pun bertanya, “air dari manakah ini”? sang ‘Abid pun mencoba mengalihkan pembicaraannya. Tetapi sang tetangga terus bertanya, air dari manakah ini yang Anda tampung? Akhirnya  Ia menjawab, “bahwa air itu adalah air rembesan dari kamar mandi Anda”.

Sang tetangga terus bertanya, “Berapa lama Anda menampungnya”?  sudah 18 tahun, jawab sang ‘abid. Kenapa anda tidak megadukannya padaku? Sang ‘abid menjawab : “Barang siapa beriman kepada Allaah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, anda adalah tetangga saya maka kewajiban saya adalah memuliakan anda“. Betapa terkejutnya sang tetangga itu, Ia merasa takjub dan akhirnya sang tetangga non-muslim tersebut masuk Islam. 

Penutup 
Dalam pergaulan sehari-hari tentu peran tetangga sangat penting, baik sebagai teman ngobrol, teman berbagi serta ladang untuk menuai pahala dari Allah SWT. Beruntung jika memiliki tetangga yang baik, karena tetangga yang baik itu lebih mahal dari harga rumah atau tanah yang kita tempati, tetangga yang baik tidak ternilai harganya.

Rasulullah SAW menganjurkan kita berdoa agar terhindar dari tetangga yang jahat. Karena memiliki tetangga yang jahat bisa menjadikan rasa tidak aman, bahkan seluruh kampung tersebut akan terkena dampaknya. Untuk itu maka ketika mencari rumah baru, yang harus diutamakan adalah mencari tetangga yang terbaik lebih dahulu, atau dengan kata lain memilih tetangga sebelum memilih rumah.

Menjalani kehidupan bertetangga dengan baik dan saling menunaikan hak masing-masing merupakan suatu kebahagiaan dan tanda kebaikan sebuah masyarakat. Rasulullah SAW  bersabda, “Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban, hadits ini dishahihkan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau ash-Shahihul Musnad Mimma Laysa fish- Shahihain 1/277)

Dalam hadits lain rasulullah SAW bersabda,“Sebaik-baik sahabat disisi Allah adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang terbaik kepada tetangganya.”(HR. at-Tirmidzi) Marilah kita berbuat baik terhadap tetangga, serta memberikan hak-hak atasnya. Semoga kita menjadi golongan orang berada disisi Allah SWT. Amiin..[]

Amir Hamzah Albantani
Divis Pendidikan; Lembaga Pengabdian Masyarakat
PONPES UII

nikah lebih cepat lebih baik...


“Mau nikah tapi belum ada modal mas?”
Nikah kok pake nunggu ngumpulin modal, emang mau buka toko!. Nikah kok nunggu mapan, nunggu kaya, nunggu sejahtera. Kebalik tuh. Segera nikah, biar segera dimapankan, dikayakan, disejahterakan oleh Allah.

“Tapi saya masih belum lulus kuliah mas?”.
Emang sejak kapan rukun nikah pake ijazah?.

“Saya belum punya kerjaan tetap mas?”.
Nggak penting itu punya pekerjaan tetap, yg penting tetap punya penghasilan .

“Padahal rencana saya nikah umur 30-an gitu mas”
Coba dech dihitung-hitung, umpama cowok nikah usia 30. Anaknya lulus kuliah udah berapa tuh usia sang bapak?. Yup, lebih dari 50 tahun. Kalo nikahnya umur 20?. Usia 40-an sudah bisa gendong cucu tuh

“Apa sih mas perbedaan besar antara pacaran d engan nikah?”
Pacaran? Rawan maksiat. Nikah? Rawan rahmat .

“Nikah muda itu bahaya lho mas, psikis pasangan muda kan labil?”.
Mangkanya buruan nikah, biar segera stabil

“Masak putus? Pacar saya udah sayang banget ma saya mas”.
Buat kalian y ang masih melihara pacar, katakan pada pacar kalian, “Bukti cinta sejati bukan “I love you”, tapi “qobiltu”

“Mas, saya nunda nikah karena belum siap dari segi finansial?”.
Lho, kenapa nikahnya y ang ditunda, kenapa nggak finansialnya aja yang dipercepat?

Status ngomporin nikah ntar lagi dilanjut ya. Istri ngajak jalan -jalan lagi nih
Oh ya, jalan -jalan  sama istri itu ngoleksi pahala, lho. Kalo sama pacar? Jawab sendiri dah

“Cieee, si mas mentang -menyang udah nikaaah “
Cieee, mentang -mentang  yang belum berani nikaaah

“Apa sih mas enaknya nikah muda?”
Bocoran nih ya, ibu saya dulu nikah usia 17 taun, sekarang di usia beliau yg baru 42 taun, beliau udah tenang, karena anak2nya dah lulus kuliah, bahkan anaknya yg paling imut nih dah berani berumahtangga, hehe

“Nikah muda itu bahaya lho mas. Rawan perceraian, karena kondisi emosional, finansial, psikis, anak muda masih labil. Nikah muda itu rawan lho mas. Bayi yang lahir oleh pasangan muda itu bla bla bla”.
Udahlah, jangan banyak alasan, diketawain sama ibu saya tuh.

“Saya sering liat ada orang dewasa yang nggak nikah-nikah?”
Lelaki dewasa yang belum juga berani nikah kemungkinannya hanya 2: terlalu banyak maksiat, atau kejantanannya perlu dipertanyakan . Udahlah, daripada tersinggung, mending berubah.

“Jangankan nafkahin istri, nafkahin diri sendiri saja belum bisa!”.
Hah? Usia mudanya dipake ngapain aja tuh?.

“Mas, saya pingin membahagiakan ortu dulu. Masak baru lulus, baru kerja, langsung minta nikah?”.
Hey, bukankah lebih keren kalo kita membahagiakan ortu, istri, juga mertua sekaligus?.

“Saya mau fokus di karir dulu mas”.
Astaghfirullah, masih nggak percaya juga dg firman Tuhan?. Nikah itu ngundang rezeki, bukan malah menghambatnya. Udahlah, pokoknya orang keren adalah orang yg nggak suka cari2 alasan

“Mas, modal nikah itu berapa sih?”
Seringan mungkin. Sesederhana mungkin. Muslimah mulia adalah yg ringan maharnya. Resepsi, sesederhana mungkin. Undangan, sehemat mungkin. Jangan boroskan duit di resepsi.

“Mas, adakah penelitian yg membuktikan nikah bikin kaya?”
Buanyak. Mangkanya sempetin baca buku, nggak baca status doank

“Kenapa ada yg usai nikah tapi hidupnya malah berantakan?”
Yg usai nikah dan lebih bahagia juga membludak. Jadi yg salah bukan nikahnya, tapi faktor orangnya

“Kenapa kita lebih disaranin nikah muda?”
Biar agama kita disempurnakan oleh Tuhan di usia kita yg semuda mungkin

“Kalo belum ketemu jodoh gimana, mas?”
sebagamana rezeki, begitulah jodoh. Rezeki memang ditangan Tuhan, tapi kalo nggak dijemput ya bakal ditangan Tuhan teruuus

“Lha cara jemput jodoh itu gimana mas?”
Gitu masih ditanyain? Ckckckck.. katanya udah gedhe

“Kenapa sih mas dari kemaren ngomporin nikah muda?”.
Karena saya pingin anak2 muda sebahagia kami, hehe.

“Boro2 nikah, kuliah aja nggak lulus2. Boro2 nikah, kerja aja nggak dapet2. Boro2 nikah, usaha aja nggak jalan2. Boro2 nikah, ortu aja belum ngizinin. Boro2 nikah, jodoh aja nggak dapet2″.
Ini nih pikiran anak muda yg pesimis. Asal tahu saja nih ya, di luar sana ada banyak banget yg nikah tapi kuliahnya makin lancar, yg nikah dan karirnya makin cepat, yg nikah dan usahanya makin melejit, yg masih muda tapi dapat jodoh yg hebat, yg masih muda tapi udah diizinin ortunya nikah. Kira2 apa yg bedain kalian dg mereka?. Bener, mereka kreatif cari solusi, bukan cuma kreatif cari alesan . Mereka semangat cari jalan keluar, bukan cuma bisa ngeluh sambil fb-an

“Aduh, mas, puasa2 gini ngomporin nikah “
Karena puasa itu nikmat banget. Yg dah nikah, sahur dibangunin istri. Yg belom nikah? Betah amat bertaun2 dibangunin alarm . Yg dah nikah, terawih berjalan ke mesjid bareng istri. Yg belom? Kaciiiaaan . Yg dah nikah, buka masakan istri. Yg belom? Betah amat seumur2 nasi bungkusan . Yg dah nikah, pas tilawah, ada yg dengerin, ada yg nyimak, ada yg benerin. Pas tidur, ada yg nemenin. Pas sedih, ada yg dicurhatin. Pas nangis, ada pundak tempat bersandar. *Ciyeee.. Daripada pingin, buruan berbenah, dan segera nikah muda

Nikah ituuuu, menenangkan. Juga menyenangkan. Beneran. Apalagi nikah muda, beuuh, serasa kayak pacaran. Tapi ini pacarannya keren, pacaran setelah pernikahan

Daripada protes, daripada tersinggung, daripada panas, daripada pingin, mending berbenah, mending berubah, mending berdoa, semoga bisa tergapai cita-cita nikah muda.

sumber tulisan :
http://www.pks-petir.org/2013/01/tak-ada-alasan-lagi-untuk-menunda-nikah.html

Muhasabah dan Muraqabah

Ada 6 langkah untuk muhasabah dan muraqabah menurut Imam Gazali:

Maqam 1, Musyarathah/Persyaaratan:
a. Keserasian antara akal dan nafsu (al-dinu huwa al ‘aqlu la al-dina liman la ‘aqla lahu - Inna al-nafsa la amaratun bi al-sui)
b. Memikirkan segala sesuatu yang akan diperbuat (qalbul ahmaqi wara’a lisanihi wa lisanul ‘aqili wara’a qalbihi - khairukum anfa’uhum li al-nas – baik untuk diri sendiri atau masyarakat)
c. Menguatkan dengan niat yang ikhlas (innamal a’malu bi al-niat)

Maqam 2, Mu’ayanah/Mencela-diri:
a. Menyadari kekurangan-kelemahan (‘aib) diri sendiri (allahumma inni a’u dzubika minal ‘ajzi wa al kasali, wa a’u dzubika mi al jubni wa al bukhli)
b. Menjadikan kritik orang lain sebagai pelajaran kepribadian

Maqam 3, Mu’aqabah/Penghukuman-diri:
a. Melawan kelemahan (‘aib) diri dengan perbuatan sebaliknya (perbuatan yang baik).
b. Melawan kekurangan diri dengan perbuatan positif.

Maqam 4, Muraqabah/Kontrol-diri:
a. Melanggengkan niat – berarti dzikrullah (mengingat) Allah setiap saat (innamal a’malu bi al-niat – kullu amrin dzi balin layubdau fihi bi bismillah fahuwa aqtha’)
b. Berpikir bahwa Allah senantiasa melihat apa yang kita perbuat (an ta’budallaha ka annaka tarahu, faillam takun tarahu, fainnahu yaraka).

Maqam 5, Muhasabah/Koreksi-diri:
a. Menakar kemampuan sendiri (hasibu anfusakum qabla an tuhasabu)
b. Penuh perencanaan (fa idza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab)
c. Berpikir ke depan (wal tandzur ma qaddamat li ghad)

Maqam 6, Mujahadah/Kesungguhan:
a. Bekerja maksimal (I’mal lidunyaka ka annaka ta’isyu abadan, wa’mal li akhiratika ka annaka tamutu ghadan)
b. Bersikap dinamis (man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, man kana yaumuhu sawaan min amsihi fahuwa maghbunun, man kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa mal’unun).

Dunia Panggung Sandiwara

“Dunia adalah panggung sandiwara” begitulah salah satu bunyi bait lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ahmad Albar. Panggung sandiwara menunjukan bahwa dunia adalah sebuah pertunjukan di mana para tokoh dan pemain memerankan peran yang bukan sesungguhnya. Sandiwara adalah sebuah hiburan belaka karenanya sandiwara disebut karya fiktif dan khayalan. Benarkah dunia ini panggung tempat berakting, bertujuan hiburan semata dan bersifat kesenangan sesaat? Untuk menjawabnya, marilah kita lihat firman Allah dalam surat al-‘Ankabut [29]: 64

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: ” Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Betul, ternyata dalam ayat di atas Allah menyebut dunia sebagai sebuah senda gurau (lahwuni) dan permaian (la’ibun). Namun penyebutan dunia sebagai bentuk permainan bukan berarti melecehkan dan meremehkan dunia ini, namun penyebutan tersebut memiliki tujuan, maksud serta pesan mulia untuk kebaikan hidup manusia itu sendiri.

Pertama, dengan menyebut bahwa dunia adalah permainan tersirat pesan bahwa betapa terbatas dan singkatnya masa hidup di dunia ini, jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang akan dijalani manusia. Sebuah permainan apapun bentuknya pastilah memiliki limit dan batas waktu. Sepak bola misalnya, hanya dimainkan dalam waktu 2x45 menit, setelah itu pluit panjang akan dibunyikan pertanda berakhirnya pertandingan. Bola basket, bola voli, bulu tangkis dan sejenisnya adalah permainan yang dibatasi oleh hitungan, yakni jika sudah mencapai hitungan tertentu, maka otomatis permainan berakhir. Begitulah juga kehidupan di dunia, bahwa masanya sangat terbatas dan sedikit. Bukankah limit dan batas waktu yang kita lalui dalam sebuah pertandingan jika dibandingkan dengan masa keseluruhan hidup yang kita lalui, adalah sangat sedikit?

Dengan menyebutkan bahwa dunia adalah permainan, Allah swt mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan dunia yang sesaat dan sebentar itu, karena ada kehidupan yang tidak terbatas waktu yang akan ditempuh yaitu akhirat. Maka persiapkanlah diri dengan sebaiknya menempuh kehidupan yang panjang tak berbats itu. Lihatlah firman Allah dalam surat al-Dhuha [93]: 4

وللآخرة خير لك من الأولى

Artinya: “dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).”

Kedua, dengan menyebut dunia adalah permainan ada pesan bahwa betapa sedikitnya kegembiraan dan kebahagiaan dunia. Karema permaian sesungguhnya adalah hiburan sesaat. Jika permaian usai, maka kegembiraan juga selesai. Bukankah seorang anak tidak jarang menangis ketika waktu bermainnya habis? Begitulah dunia, bahwa kemegahan, kegembiraan, kesenangannya akan ikut berakhir dengan berakhir kehidupan dunia ini. Kita yang dulu berpangkat tinggi, hidup dimuliakan, kemana datang disambut seperti raja, jika bicara di ikuti tepuk tangan manusia, jika hendak pergi kendaraan siap antar-jemput dengan sopir yang setia membuka dan menutup pintu dan seterusnya. Akan tetapi, ketika sudah habis masanya, kematian datang mengakhiri kehidupan maka semua kemegahan hilang dan lenyap sudah. Betapa banyak orang yang dulu menyayangi, menghormati, mengagumi, serta mengelu-elukan kita ternyata secara bersama-sama pula mereka membenamkan jasad dan tubuh kita ke dalam lobang tanah. Tidak ada lagi teman, sahabat, isteri anak, pembantu dan sebagainya, semua pergi dan meninggalkan kita sendirian di tempat sempit, gelap dan pengap. Mana kegembiraan dan kesenanagan dulu? Mana kemulian dan kehormatan dulu? Semua berakhir karena waktu beramain juga berakhir, begitulah dunia.
Ingatlah, bahwa hanya kebahagian dan kegembiraan akhiratlah yang tidak akan berakhir. lihatlah firman Allah dalam surat al-Insan [76]: 11

فوقاهم الله شر ذلك اليوم ولقاهم نضرة وسرورا

Artinya: Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.

Ketiga, dengan menyebutkan bahwa dunia adalah permainan sesungguhnya ada pesan agar manusia tidak boleh lengah, lalai dan gagal dalam kehidupan dunia itu sendiri. Manusia harus serius hdiup didunia ini, mencari dan mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya, menjadi pemenang dalam segala hal, namun tentu kebrhasilan mengumpulkan dunia adalah digunakan sebagai bekal meraih kesenangan dan kebahagian hakiki di akhirat. Allah menginginkan manusia agar serius menjalankan hidup di dunia, karena apapun bentuk permaiannya sudah pasti tujuan para pemaian adalah meraih kemenangan. Adalah sangat menyakitkan bagi para pemain, bahkan juga penonton dan supporter jika timnya bermaian buruk sehingga menelan kekalahan. Bukankah sering kita saksikan terjadi keributan antar pemain bahkan antar supporter karena timnya menderita kekalahan. Andaipun dunia adalah panggung sandiwara, maka tentu saja kesungguhan dan keseriusan menjadi tuntutannya. Bukankah seorang aktor dinilai sukses, jika dia berakting dengan baik sehingga membuat penonton larut dalam cerita yang dibawakannya.

Begitulah kehidupan dunia, biarpun disebut permainan tetapi tuntutannya adalah bahwa para pemainnya meraih kemenangan dan kesuksesan hidup padanya. Karena kesuksesan dunia akan menjadi sarana dan jembatan meraih kesuksesan akhirat yang merupakan puncak segala kemenangan.

Empat, dengan menyebut hidup di dunia adalah permainan memberikan tuntunan kepada manusia agar tidak boleh menyerah dan putus dalam kehidupan ini sebelum permainan benar-benar dinyatakan berakhir. lihatlah permainan sepak bola, seringkali kemenangan ditentukan oleh menit-menit akhir sebelum pluit panjang dibunyikan. Sehingga, saat-saat sebelum pluit panjang dibunyikan merupakan waktu yang paling krusial dalam sebuah permainan untuk meraih sukses dan kemenangan.

Oleh karena itu, dalam menjalani hidup di dunia ini tidak boleh ada kata pasrah, menyerah apalagi kalah sebelum bertanding. Teruslah berjuang tanpa henti sebelum ajal benar-benar datang mengakhiri hidup ini. Tidak boleh ada istilah terlambat, sudah tua, cukuplah sampai di sini, dan sebagainya untuk berbuat amal kebajikan dan memperbaiki diri guna meraih sukses dunia dan akhirat. Ingatlah pesan Nabi saw! Bahwa taubat seseorang masih diterima Allah sebelum nywanya sampai ditenggorokannya.
Semoga ada manfaatnya, wallahu a’lam.

sumber :
http://syofyanhadi.blogspot.com/2012/02/dunia-permainan.html
 

Neraka Saqar

Demi malam ketka telah berlalu, demi subuh apabila mulai terang...
apakah kalian tahu apakah neraka saqar itu? ya neraka saqar adalah neraka bagi bagi kita, neraka saqar adalah sebagai peringatan dari allah. ingat setiap orang bertangung jawab atas dirinya sendiri atas apa yang pernah ia perbuat.

didalam alquran disebutkan bahwa ada sebagain yang tidak mendapatkan neraka saqar, siapakah mereka? mereka yang oleh alquran disebutkan sebagai "ashabul yamin" yaitu golongan kanan. yaitu mereka yang masuk kedalam syurga allah.

apa yang menyebabkan kamu masuk kedalam neraka saqar??mereka menjawab sahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak memberi makan orang miskin bahkan kami selalu ghibah serta mendustakan hari pembalasan, hingga akhirnya kematian itu menimpa kami.

semuanya tak ada lagi yang bisa kami perbuat, semuanya sudah menjadi bubur.

sumber :
QS Al-Mudatsir ayat : 33-48

Muqaddimah


Muqaddimah 
Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan surat Makkiyyah.

Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan. 

Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab" (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quraan, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang. 

Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang. 

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quraan, yaitu:

Keimanan
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini.
Diantara ni'mat itu ialah: ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak hanya berarti "Tuhan" atau "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini.
Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: "Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).
Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan "Yang Menguasai Hari Pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatutunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan kaki 6.
Hukum-hukum
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran. 
Kisah-kisah
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).
"Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,"ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quraan pada surat-surat yang lain.

Penutup

Surat "Al Fatihaah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quraan yang 113 surat berikutnya.

Persesuaian surat ini dengan surat "Al Baqarah" dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik- titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.

Dibahagian akhir surat "Al Faatihah" disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke- jalan yang lurus, sedang surat "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "al Kitaab" (Al Quraan) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

Bersyukur dan Bertawakkal


Ädr'Î7sù ÏäIw#uä $yJä3În/u Èb$t/Éjs3è?
Nikmat manakah yang kalian dustai (QS. Al-Rahman)

Sudahkah kita bersyukur hari ini?
Sudahkah kita bersyukur hari ini? Ya pertanyaan itu pantas ditanyakan kepada diri kita masing-masing. Apkah bersyukur ataukah malah kufur atas nikmat Allah tersebut. Secara tidak sadar mungkin lebih condong kepada tidak mensyukuri nikmat ketimbang mensyukuri nikmat. Misalnya saja kita  diberikan kesehatan, tetapi dengan kesehatan tersebut malah digunakan untuk bermaksiat atau melaksanakan hal-hal yang dilarang oleh agama. Naudzubilah...

Bersyukur merupakan gambaran mu’min sejati. Karena syukur merupakan gambaran diri seseorang yang mampu menerima keadaan secara ikhlas, ridha serta tawakkal. Allah berfirman dalam al-Qur’an (QS. Ibrahim : 7-8 ) Artinya :  dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Janji Allah pada ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita bersyukur maka kenikmatan tersebut akan Allah tambah, tetapi jika sebaliknya yaitu ingkar dan malah kufur nikmat maka balasannya adalah azab yang sangat pedih. Azab tersebut berlaku di dunia atau diakhirat kelak, kita tidak tahu azab itu kapan ditimpakan. Wallahu’alam

Mensyukuri hidup
Hidup itu adalah sebuah perjalanan dari masa ke masa, dengan berbagai lika-liku yang ada didalamnya. Dalam hidup ini kita biasa menemukan orang yang menjabat sebagai direktur, manager, karyawan, office boy, tukang parkir dan lain sebagainya. Semua jabatan itu dalam kacamata agama islam adalah berupa amanat dan tanggung jawab. Ditakdirkan menjadi orang miskin bukanlah musibah, tetapi disyukuri serta dijalani. Se-miskin apapun tidak syogyanya mencari rizki dengan cara yang diharamkan. Rizki Allah sangat luas, asalkan mau mencarinya dan tidak mudah putus asa.

Kaya atau miskin sebetulnya hanyalah status sosial, jika diberikan kemiskinan seyogyanya menikmati kemiskinan layaknya orang kaya yang menikmati ke kayaan nya. Tidak menyesali nasib yang dijalani, tetapi menerimanya dengan ridha kepada Allah dengan penuh ketegaran. Orang yang kaya bersyukur itu sudah seharusnya, tetapi orang yang hidup dalam kemiskinan kemudian ia bersyukur  atas kemiskinannya adalah orang yang luar biasa di mata Allah bahkan kedudukanya lebih mulia.

Allah melarang  setiap hambanya untuk berkeluh kesah, apalagi sampai menyalahkan Allah swt atas takdir yang diberikan kepada kita. Seharunya menganggap semua ini sebagai ujian agar lebih dekat dengan Allah dan merasa ada ketergantungan dengan Allah sebagai penolong dalam hidup. Hingga kita meyakini bahwa tidak bisa hidup tanpa pertolongan yang diberikan-NYA.

Hendaknya optimisti dalam menjalani kehidupan ini, dengan tetap berusaha semaksimal mungkin. Tidak melalaikan perintah Allah ketika berusaha, sehingga hasil akhir semuanay diserahkan kepada-NYA karena Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Dengan demikian kita tidak akan pernah berputus ada menghadapi kehidupan ini, dengan segala kondisi apapun. Allah berfirman : dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut : 69)

Nabi bersabda : “kana al-faqru an yakuna kufran” artinya kefakiran lebih dekat kepada kekufuran. Apa yang disampaikan oleh nabi Muhamad memang begitu adanya. Seseorang yang kekurangan harta (miskin) sangat rentan untuk menukar keimanan mereka dengan uang. Bahkan ada selintingan yang bahwa agama ditukar dengan satu dus mie. Naudzubillah

Hidup dalam kekurangan memang berat, tetapi harus dilandasi dengan sikap tawkkal kepada allah,  janji allah di dalam al-Qur’an “dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. At-Talaq :3)

Umar bin khatab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “seandainya engkau bertawakkal kepada Allah swt, niscaya ia akan memberimu rezeki seperti Ia memberi rezeki kepada burung, dimana burung itu terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali lagi dalam keadaan kenyang”

Syukur dan Tawakal
Diriwayatkan bahwa ketika ditanyakan tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari rasulullah saw, ‘Aisyah, dengan mengelurakan air matanya, seraya berkata, “manakah yang tidak mengagumkan dari beliau?” lalu ia menceritakan, “suatu malam, aku tidur bersama rasulullah saw di tempat tidur. Namun, belum lama kami tidur, tiba-tiba beliau membangunkan ku seraya berkata,’wahai putri abu bakar! Izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada tuhanku!’ aku jawab, “sebenarnya aku senang kau tetap berada disampingku, tapi kau labih mendahulukan keinginanmu.’ Maka bangunlan beliau dari tidurnya, lalu berwudhu’ dengan sempurna, dan akhirnya melaksanakan shalat malam. Malam itu beliau shalat sampai subuh, dan selama melaksanakan shalat itu, aku lihat beliau menitikan air matanya hingga basah bajunya. Aku bertanya ‘apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis, wahai rasulullah? Bukankan allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab,’tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyur?”

Abu utsman berkata, “syukurnya orang-orang awam adalah syukurnya terhadap nikmat makanan, minuman, dan pakaian. Sedangkan syukurnya orang yang khusus adalah syukurnya mereka terhadap nikmat ketakwaan didalam hatinya” ketika nabi idris mendengar kabar gembira tentang diampunkan segala dosa-dosanya, baliau memohon kepada allah swt agar dipanjangkan umurnya. “mengapa sampai demikian?” tanya orang-orang kepadanya. Beliau menjawab, “agar aku berkesempatan untuk bersyukur kepada-Nya. Sebab, selama ini aku hanya beramal untuk mendapatkan ampunan dari-Nya.”

Tawakkal adalah menyerahkan urusan kepada Allah, dan meyakini bahwa apa pun yang Allah berikan kepadanya tidak akan berpindah kepada orang lain, atau sebaliknya yang tidak menjadi jatahnya tidak mungkin ia terima. ...... dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".(QS. Al-Maidah : 23) Tawakkal itu bertingkat-tingkat, pertama tawakkal yakni bertwakkal terhadap janji-janji allah. Kedua, adalah taslim, yakni bertawakkal terhadap ilmu-Nya dan yang ketiga adalah tafwid, yakni bertwakkal terhadap takdir-Nya.

Dikatakan bahwa tawakkal merupakan permulaan dari tawakkal, taslim adalah pertangahannya, sedangkan tafwid adalah klimaksnya. Ada juga yang mengatakan bahwa tawakkal adalah sikapnya orang-orang awam, taslim adalah sikapnya orang-orang khusus sedangkan tafwid adalah sikapnya orang-orang yang lebih khusus lagi. Abu ali ar-Rudzbari berkata, “ada tiga tingkatan tawakkal, yaitu : pertama, bersyukur jika diberi, dan bersabar jika tidak diberi. Kedua, tetap bersyukur, baik ketika diberi maupun tidak. Ketiga, lebih menyukai tidak diberi karena tahu bahwa ia ada hikmah dari Allah bagi dirinya.”

Jika ditanya siapakah yang paling bersyukur dan bertawakkal? Jawabannya adalah Rasulullah saw. Walau sudah mendapat jaminan pengampunan dosa dari Allah beliau tetap bersyukur. Walau rasulullah sebagai seorang pemimpin tetapi beliau hidup dalam kesederhanaan, hartanya digunakan untuk kepentingan dakwah islamiyah, semuanya beliau serahkan kepada Allah. Jadi, jika ditanya siapakah yang pantas menjadi panutan kita dalam bersyukur dan bertawakkal maka Rasulullah saw adalah jawabannya. Wallahu’alam []

Hamzah Albantani
Divisi Pendidikan 
Lembaga Pengabdian Masyarakat 

ITIK BERKAKI SATU

Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk. Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?"

"Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam."

Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu. "Lihatlah," kata Nasrudin puas, "Di sini itik hanya berkaki satu."

Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.

Tapi Nasrudin tidak kehilangan akal. "Subhanallah," katanya, "Bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga."

sumber : 
http://media.isnet.org/

KELEDAI MEMBACA

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

"Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."

Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"

Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."

"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"

Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"

KEADILAN DAN KELALIMAN

Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

"Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

"Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :

"Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami."

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

sumber : 
http://media.isnet.org/

Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu' Jilid 1

Hadits ke-2 

"Barangsiapa shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka ia tidak menambah sesuatu pun dari Allah SWT kecuali kejauhan."
Hadits tersebut batil. Walaupun hadits tersebut sangat dikenal dan sering menjadi pembicaraan, namun sanad maupun matannya tidak sahih.

Dari segi sanad, telah diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam kitab al-Mu'jam al-Kabir, al-Qudha'i dalam kitab Musnad asy-Syhab II/ 43, Ibnu Hatim dalam Tafsir Ibnu Katsir II/414 dan kitab al-Ka-wakib ad-Darari I/2/83, dari sanad Laits, dari Thawus, dari Ibnu Abbas r.a.. Ringkasnya, hadits tersebut sanadnya tidak sahih sampai kepada Rasulullah saw, tetapi hanya mauquf (berhenti) sampai kepada Ibnu Mas'ud r.a., dan merupakan ucapannya dan juga hanya sampai kepada Ibnu Abbas r.a. Karena itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Kitabul-Iman halaman 12, tidak menyebut-nyebutnya kecuali sebagai riwayat mauquf yang hanya sampai kepada Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas r.a.

Di samping itu, matannya pun tidak sahib sebab zhahirnya mencakup siapa saja yang mendirikan shalat dengan memenuhi syarat rukunnya. Padahal, syara' tetap menghukuminya sebagai yang benar atau sah, kendatipun pelaku shalat tersebut masih suka melakukan perbuatan yang bersifat maksiat. Jadi, tidaklah benar bila dengannya (yakni shalat yang benar) justru akan makin menjauhkan pelakunya dari Allah SWT. Ini sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak pula dibenarkan dalam syariat. Karena itu, Ibnu Taimiyah menakwilkan kata-kata "tidak menambahnya kecuali jauh dari Allah" jika yang ditinggalkannya itu merupakan kewajiban yang lebih agung dari yang dilakukannya. Dan ini berarti pelaku shalat tadi meninggalkan sesuatu sehingga shalatnya tidak sah, seperti rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Kemudian, tampaknya bukanlah shalat yang demikian (yakni yang sah dan benar menurut syara') yang dimaksud dalam hadits mauquf tadi.

Dengan demikian jelaslah bahwa hadits tersebut dha'if, baik dari segi sanad maupun matannya. Wallhu alam bishsbawab.
Muhammad Nashruddin al-Albani
sumber : http://media.isnet.org