SLIDE

Recent Tube

jalan - jalan

NEWS SCROLL

Favourite

Event

Culture

Gallery

nikah lebih cepat lebih baik...


“Mau nikah tapi belum ada modal mas?”
Nikah kok pake nunggu ngumpulin modal, emang mau buka toko!. Nikah kok nunggu mapan, nunggu kaya, nunggu sejahtera. Kebalik tuh. Segera nikah, biar segera dimapankan, dikayakan, disejahterakan oleh Allah.

“Tapi saya masih belum lulus kuliah mas?”.
Emang sejak kapan rukun nikah pake ijazah?.

“Saya belum punya kerjaan tetap mas?”.
Nggak penting itu punya pekerjaan tetap, yg penting tetap punya penghasilan .

“Padahal rencana saya nikah umur 30-an gitu mas”
Coba dech dihitung-hitung, umpama cowok nikah usia 30. Anaknya lulus kuliah udah berapa tuh usia sang bapak?. Yup, lebih dari 50 tahun. Kalo nikahnya umur 20?. Usia 40-an sudah bisa gendong cucu tuh

“Apa sih mas perbedaan besar antara pacaran d engan nikah?”
Pacaran? Rawan maksiat. Nikah? Rawan rahmat .

“Nikah muda itu bahaya lho mas, psikis pasangan muda kan labil?”.
Mangkanya buruan nikah, biar segera stabil

“Masak putus? Pacar saya udah sayang banget ma saya mas”.
Buat kalian y ang masih melihara pacar, katakan pada pacar kalian, “Bukti cinta sejati bukan “I love you”, tapi “qobiltu”

“Mas, saya nunda nikah karena belum siap dari segi finansial?”.
Lho, kenapa nikahnya y ang ditunda, kenapa nggak finansialnya aja yang dipercepat?

Status ngomporin nikah ntar lagi dilanjut ya. Istri ngajak jalan -jalan lagi nih
Oh ya, jalan -jalan  sama istri itu ngoleksi pahala, lho. Kalo sama pacar? Jawab sendiri dah

“Cieee, si mas mentang -menyang udah nikaaah “
Cieee, mentang -mentang  yang belum berani nikaaah

“Apa sih mas enaknya nikah muda?”
Bocoran nih ya, ibu saya dulu nikah usia 17 taun, sekarang di usia beliau yg baru 42 taun, beliau udah tenang, karena anak2nya dah lulus kuliah, bahkan anaknya yg paling imut nih dah berani berumahtangga, hehe

“Nikah muda itu bahaya lho mas. Rawan perceraian, karena kondisi emosional, finansial, psikis, anak muda masih labil. Nikah muda itu rawan lho mas. Bayi yang lahir oleh pasangan muda itu bla bla bla”.
Udahlah, jangan banyak alasan, diketawain sama ibu saya tuh.

“Saya sering liat ada orang dewasa yang nggak nikah-nikah?”
Lelaki dewasa yang belum juga berani nikah kemungkinannya hanya 2: terlalu banyak maksiat, atau kejantanannya perlu dipertanyakan . Udahlah, daripada tersinggung, mending berubah.

“Jangankan nafkahin istri, nafkahin diri sendiri saja belum bisa!”.
Hah? Usia mudanya dipake ngapain aja tuh?.

“Mas, saya pingin membahagiakan ortu dulu. Masak baru lulus, baru kerja, langsung minta nikah?”.
Hey, bukankah lebih keren kalo kita membahagiakan ortu, istri, juga mertua sekaligus?.

“Saya mau fokus di karir dulu mas”.
Astaghfirullah, masih nggak percaya juga dg firman Tuhan?. Nikah itu ngundang rezeki, bukan malah menghambatnya. Udahlah, pokoknya orang keren adalah orang yg nggak suka cari2 alasan

“Mas, modal nikah itu berapa sih?”
Seringan mungkin. Sesederhana mungkin. Muslimah mulia adalah yg ringan maharnya. Resepsi, sesederhana mungkin. Undangan, sehemat mungkin. Jangan boroskan duit di resepsi.

“Mas, adakah penelitian yg membuktikan nikah bikin kaya?”
Buanyak. Mangkanya sempetin baca buku, nggak baca status doank

“Kenapa ada yg usai nikah tapi hidupnya malah berantakan?”
Yg usai nikah dan lebih bahagia juga membludak. Jadi yg salah bukan nikahnya, tapi faktor orangnya

“Kenapa kita lebih disaranin nikah muda?”
Biar agama kita disempurnakan oleh Tuhan di usia kita yg semuda mungkin

“Kalo belum ketemu jodoh gimana, mas?”
sebagamana rezeki, begitulah jodoh. Rezeki memang ditangan Tuhan, tapi kalo nggak dijemput ya bakal ditangan Tuhan teruuus

“Lha cara jemput jodoh itu gimana mas?”
Gitu masih ditanyain? Ckckckck.. katanya udah gedhe

“Kenapa sih mas dari kemaren ngomporin nikah muda?”.
Karena saya pingin anak2 muda sebahagia kami, hehe.

“Boro2 nikah, kuliah aja nggak lulus2. Boro2 nikah, kerja aja nggak dapet2. Boro2 nikah, usaha aja nggak jalan2. Boro2 nikah, ortu aja belum ngizinin. Boro2 nikah, jodoh aja nggak dapet2″.
Ini nih pikiran anak muda yg pesimis. Asal tahu saja nih ya, di luar sana ada banyak banget yg nikah tapi kuliahnya makin lancar, yg nikah dan karirnya makin cepat, yg nikah dan usahanya makin melejit, yg masih muda tapi dapat jodoh yg hebat, yg masih muda tapi udah diizinin ortunya nikah. Kira2 apa yg bedain kalian dg mereka?. Bener, mereka kreatif cari solusi, bukan cuma kreatif cari alesan . Mereka semangat cari jalan keluar, bukan cuma bisa ngeluh sambil fb-an

“Aduh, mas, puasa2 gini ngomporin nikah “
Karena puasa itu nikmat banget. Yg dah nikah, sahur dibangunin istri. Yg belom nikah? Betah amat bertaun2 dibangunin alarm . Yg dah nikah, terawih berjalan ke mesjid bareng istri. Yg belom? Kaciiiaaan . Yg dah nikah, buka masakan istri. Yg belom? Betah amat seumur2 nasi bungkusan . Yg dah nikah, pas tilawah, ada yg dengerin, ada yg nyimak, ada yg benerin. Pas tidur, ada yg nemenin. Pas sedih, ada yg dicurhatin. Pas nangis, ada pundak tempat bersandar. *Ciyeee.. Daripada pingin, buruan berbenah, dan segera nikah muda

Nikah ituuuu, menenangkan. Juga menyenangkan. Beneran. Apalagi nikah muda, beuuh, serasa kayak pacaran. Tapi ini pacarannya keren, pacaran setelah pernikahan

Daripada protes, daripada tersinggung, daripada panas, daripada pingin, mending berbenah, mending berubah, mending berdoa, semoga bisa tergapai cita-cita nikah muda.

sumber tulisan :
http://www.pks-petir.org/2013/01/tak-ada-alasan-lagi-untuk-menunda-nikah.html

Muhasabah dan Muraqabah

Ada 6 langkah untuk muhasabah dan muraqabah menurut Imam Gazali:

Maqam 1, Musyarathah/Persyaaratan:
a. Keserasian antara akal dan nafsu (al-dinu huwa al ‘aqlu la al-dina liman la ‘aqla lahu - Inna al-nafsa la amaratun bi al-sui)
b. Memikirkan segala sesuatu yang akan diperbuat (qalbul ahmaqi wara’a lisanihi wa lisanul ‘aqili wara’a qalbihi - khairukum anfa’uhum li al-nas – baik untuk diri sendiri atau masyarakat)
c. Menguatkan dengan niat yang ikhlas (innamal a’malu bi al-niat)

Maqam 2, Mu’ayanah/Mencela-diri:
a. Menyadari kekurangan-kelemahan (‘aib) diri sendiri (allahumma inni a’u dzubika minal ‘ajzi wa al kasali, wa a’u dzubika mi al jubni wa al bukhli)
b. Menjadikan kritik orang lain sebagai pelajaran kepribadian

Maqam 3, Mu’aqabah/Penghukuman-diri:
a. Melawan kelemahan (‘aib) diri dengan perbuatan sebaliknya (perbuatan yang baik).
b. Melawan kekurangan diri dengan perbuatan positif.

Maqam 4, Muraqabah/Kontrol-diri:
a. Melanggengkan niat – berarti dzikrullah (mengingat) Allah setiap saat (innamal a’malu bi al-niat – kullu amrin dzi balin layubdau fihi bi bismillah fahuwa aqtha’)
b. Berpikir bahwa Allah senantiasa melihat apa yang kita perbuat (an ta’budallaha ka annaka tarahu, faillam takun tarahu, fainnahu yaraka).

Maqam 5, Muhasabah/Koreksi-diri:
a. Menakar kemampuan sendiri (hasibu anfusakum qabla an tuhasabu)
b. Penuh perencanaan (fa idza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab)
c. Berpikir ke depan (wal tandzur ma qaddamat li ghad)

Maqam 6, Mujahadah/Kesungguhan:
a. Bekerja maksimal (I’mal lidunyaka ka annaka ta’isyu abadan, wa’mal li akhiratika ka annaka tamutu ghadan)
b. Bersikap dinamis (man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, man kana yaumuhu sawaan min amsihi fahuwa maghbunun, man kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa mal’unun).

Dunia Panggung Sandiwara

“Dunia adalah panggung sandiwara” begitulah salah satu bunyi bait lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ahmad Albar. Panggung sandiwara menunjukan bahwa dunia adalah sebuah pertunjukan di mana para tokoh dan pemain memerankan peran yang bukan sesungguhnya. Sandiwara adalah sebuah hiburan belaka karenanya sandiwara disebut karya fiktif dan khayalan. Benarkah dunia ini panggung tempat berakting, bertujuan hiburan semata dan bersifat kesenangan sesaat? Untuk menjawabnya, marilah kita lihat firman Allah dalam surat al-‘Ankabut [29]: 64

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: ” Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Betul, ternyata dalam ayat di atas Allah menyebut dunia sebagai sebuah senda gurau (lahwuni) dan permaian (la’ibun). Namun penyebutan dunia sebagai bentuk permainan bukan berarti melecehkan dan meremehkan dunia ini, namun penyebutan tersebut memiliki tujuan, maksud serta pesan mulia untuk kebaikan hidup manusia itu sendiri.

Pertama, dengan menyebut bahwa dunia adalah permainan tersirat pesan bahwa betapa terbatas dan singkatnya masa hidup di dunia ini, jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang akan dijalani manusia. Sebuah permainan apapun bentuknya pastilah memiliki limit dan batas waktu. Sepak bola misalnya, hanya dimainkan dalam waktu 2x45 menit, setelah itu pluit panjang akan dibunyikan pertanda berakhirnya pertandingan. Bola basket, bola voli, bulu tangkis dan sejenisnya adalah permainan yang dibatasi oleh hitungan, yakni jika sudah mencapai hitungan tertentu, maka otomatis permainan berakhir. Begitulah juga kehidupan di dunia, bahwa masanya sangat terbatas dan sedikit. Bukankah limit dan batas waktu yang kita lalui dalam sebuah pertandingan jika dibandingkan dengan masa keseluruhan hidup yang kita lalui, adalah sangat sedikit?

Dengan menyebutkan bahwa dunia adalah permainan, Allah swt mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan dunia yang sesaat dan sebentar itu, karena ada kehidupan yang tidak terbatas waktu yang akan ditempuh yaitu akhirat. Maka persiapkanlah diri dengan sebaiknya menempuh kehidupan yang panjang tak berbats itu. Lihatlah firman Allah dalam surat al-Dhuha [93]: 4

وللآخرة خير لك من الأولى

Artinya: “dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).”

Kedua, dengan menyebut dunia adalah permainan ada pesan bahwa betapa sedikitnya kegembiraan dan kebahagiaan dunia. Karema permaian sesungguhnya adalah hiburan sesaat. Jika permaian usai, maka kegembiraan juga selesai. Bukankah seorang anak tidak jarang menangis ketika waktu bermainnya habis? Begitulah dunia, bahwa kemegahan, kegembiraan, kesenangannya akan ikut berakhir dengan berakhir kehidupan dunia ini. Kita yang dulu berpangkat tinggi, hidup dimuliakan, kemana datang disambut seperti raja, jika bicara di ikuti tepuk tangan manusia, jika hendak pergi kendaraan siap antar-jemput dengan sopir yang setia membuka dan menutup pintu dan seterusnya. Akan tetapi, ketika sudah habis masanya, kematian datang mengakhiri kehidupan maka semua kemegahan hilang dan lenyap sudah. Betapa banyak orang yang dulu menyayangi, menghormati, mengagumi, serta mengelu-elukan kita ternyata secara bersama-sama pula mereka membenamkan jasad dan tubuh kita ke dalam lobang tanah. Tidak ada lagi teman, sahabat, isteri anak, pembantu dan sebagainya, semua pergi dan meninggalkan kita sendirian di tempat sempit, gelap dan pengap. Mana kegembiraan dan kesenanagan dulu? Mana kemulian dan kehormatan dulu? Semua berakhir karena waktu beramain juga berakhir, begitulah dunia.
Ingatlah, bahwa hanya kebahagian dan kegembiraan akhiratlah yang tidak akan berakhir. lihatlah firman Allah dalam surat al-Insan [76]: 11

فوقاهم الله شر ذلك اليوم ولقاهم نضرة وسرورا

Artinya: Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.

Ketiga, dengan menyebutkan bahwa dunia adalah permainan sesungguhnya ada pesan agar manusia tidak boleh lengah, lalai dan gagal dalam kehidupan dunia itu sendiri. Manusia harus serius hdiup didunia ini, mencari dan mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya, menjadi pemenang dalam segala hal, namun tentu kebrhasilan mengumpulkan dunia adalah digunakan sebagai bekal meraih kesenangan dan kebahagian hakiki di akhirat. Allah menginginkan manusia agar serius menjalankan hidup di dunia, karena apapun bentuk permaiannya sudah pasti tujuan para pemaian adalah meraih kemenangan. Adalah sangat menyakitkan bagi para pemain, bahkan juga penonton dan supporter jika timnya bermaian buruk sehingga menelan kekalahan. Bukankah sering kita saksikan terjadi keributan antar pemain bahkan antar supporter karena timnya menderita kekalahan. Andaipun dunia adalah panggung sandiwara, maka tentu saja kesungguhan dan keseriusan menjadi tuntutannya. Bukankah seorang aktor dinilai sukses, jika dia berakting dengan baik sehingga membuat penonton larut dalam cerita yang dibawakannya.

Begitulah kehidupan dunia, biarpun disebut permainan tetapi tuntutannya adalah bahwa para pemainnya meraih kemenangan dan kesuksesan hidup padanya. Karena kesuksesan dunia akan menjadi sarana dan jembatan meraih kesuksesan akhirat yang merupakan puncak segala kemenangan.

Empat, dengan menyebut hidup di dunia adalah permainan memberikan tuntunan kepada manusia agar tidak boleh menyerah dan putus dalam kehidupan ini sebelum permainan benar-benar dinyatakan berakhir. lihatlah permainan sepak bola, seringkali kemenangan ditentukan oleh menit-menit akhir sebelum pluit panjang dibunyikan. Sehingga, saat-saat sebelum pluit panjang dibunyikan merupakan waktu yang paling krusial dalam sebuah permainan untuk meraih sukses dan kemenangan.

Oleh karena itu, dalam menjalani hidup di dunia ini tidak boleh ada kata pasrah, menyerah apalagi kalah sebelum bertanding. Teruslah berjuang tanpa henti sebelum ajal benar-benar datang mengakhiri hidup ini. Tidak boleh ada istilah terlambat, sudah tua, cukuplah sampai di sini, dan sebagainya untuk berbuat amal kebajikan dan memperbaiki diri guna meraih sukses dunia dan akhirat. Ingatlah pesan Nabi saw! Bahwa taubat seseorang masih diterima Allah sebelum nywanya sampai ditenggorokannya.
Semoga ada manfaatnya, wallahu a’lam.

sumber :
http://syofyanhadi.blogspot.com/2012/02/dunia-permainan.html
 

Neraka Saqar

Demi malam ketka telah berlalu, demi subuh apabila mulai terang...
apakah kalian tahu apakah neraka saqar itu? ya neraka saqar adalah neraka bagi bagi kita, neraka saqar adalah sebagai peringatan dari allah. ingat setiap orang bertangung jawab atas dirinya sendiri atas apa yang pernah ia perbuat.

didalam alquran disebutkan bahwa ada sebagain yang tidak mendapatkan neraka saqar, siapakah mereka? mereka yang oleh alquran disebutkan sebagai "ashabul yamin" yaitu golongan kanan. yaitu mereka yang masuk kedalam syurga allah.

apa yang menyebabkan kamu masuk kedalam neraka saqar??mereka menjawab sahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak memberi makan orang miskin bahkan kami selalu ghibah serta mendustakan hari pembalasan, hingga akhirnya kematian itu menimpa kami.

semuanya tak ada lagi yang bisa kami perbuat, semuanya sudah menjadi bubur.

sumber :
QS Al-Mudatsir ayat : 33-48

Muqaddimah


Muqaddimah 
Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan surat Makkiyyah.

Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan. 

Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab" (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quraan, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang. 

Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang. 

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quraan, yaitu:

Keimanan
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini.
Diantara ni'mat itu ialah: ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak hanya berarti "Tuhan" atau "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini.
Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: "Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).
Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan "Yang Menguasai Hari Pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatutunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan kaki 6.
Hukum-hukum
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran. 
Kisah-kisah
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).
"Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,"ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quraan pada surat-surat yang lain.

Penutup

Surat "Al Fatihaah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quraan yang 113 surat berikutnya.

Persesuaian surat ini dengan surat "Al Baqarah" dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik- titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.

Dibahagian akhir surat "Al Faatihah" disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke- jalan yang lurus, sedang surat "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "al Kitaab" (Al Quraan) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

Bersyukur dan Bertawakkal


Ädr'Î7sù ÏäIw#uä $yJä3În/u Èb$t/Éjs3è?
Nikmat manakah yang kalian dustai (QS. Al-Rahman)

Sudahkah kita bersyukur hari ini?
Sudahkah kita bersyukur hari ini? Ya pertanyaan itu pantas ditanyakan kepada diri kita masing-masing. Apkah bersyukur ataukah malah kufur atas nikmat Allah tersebut. Secara tidak sadar mungkin lebih condong kepada tidak mensyukuri nikmat ketimbang mensyukuri nikmat. Misalnya saja kita  diberikan kesehatan, tetapi dengan kesehatan tersebut malah digunakan untuk bermaksiat atau melaksanakan hal-hal yang dilarang oleh agama. Naudzubilah...

Bersyukur merupakan gambaran mu’min sejati. Karena syukur merupakan gambaran diri seseorang yang mampu menerima keadaan secara ikhlas, ridha serta tawakkal. Allah berfirman dalam al-Qur’an (QS. Ibrahim : 7-8 ) Artinya :  dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Janji Allah pada ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita bersyukur maka kenikmatan tersebut akan Allah tambah, tetapi jika sebaliknya yaitu ingkar dan malah kufur nikmat maka balasannya adalah azab yang sangat pedih. Azab tersebut berlaku di dunia atau diakhirat kelak, kita tidak tahu azab itu kapan ditimpakan. Wallahu’alam

Mensyukuri hidup
Hidup itu adalah sebuah perjalanan dari masa ke masa, dengan berbagai lika-liku yang ada didalamnya. Dalam hidup ini kita biasa menemukan orang yang menjabat sebagai direktur, manager, karyawan, office boy, tukang parkir dan lain sebagainya. Semua jabatan itu dalam kacamata agama islam adalah berupa amanat dan tanggung jawab. Ditakdirkan menjadi orang miskin bukanlah musibah, tetapi disyukuri serta dijalani. Se-miskin apapun tidak syogyanya mencari rizki dengan cara yang diharamkan. Rizki Allah sangat luas, asalkan mau mencarinya dan tidak mudah putus asa.

Kaya atau miskin sebetulnya hanyalah status sosial, jika diberikan kemiskinan seyogyanya menikmati kemiskinan layaknya orang kaya yang menikmati ke kayaan nya. Tidak menyesali nasib yang dijalani, tetapi menerimanya dengan ridha kepada Allah dengan penuh ketegaran. Orang yang kaya bersyukur itu sudah seharusnya, tetapi orang yang hidup dalam kemiskinan kemudian ia bersyukur  atas kemiskinannya adalah orang yang luar biasa di mata Allah bahkan kedudukanya lebih mulia.

Allah melarang  setiap hambanya untuk berkeluh kesah, apalagi sampai menyalahkan Allah swt atas takdir yang diberikan kepada kita. Seharunya menganggap semua ini sebagai ujian agar lebih dekat dengan Allah dan merasa ada ketergantungan dengan Allah sebagai penolong dalam hidup. Hingga kita meyakini bahwa tidak bisa hidup tanpa pertolongan yang diberikan-NYA.

Hendaknya optimisti dalam menjalani kehidupan ini, dengan tetap berusaha semaksimal mungkin. Tidak melalaikan perintah Allah ketika berusaha, sehingga hasil akhir semuanay diserahkan kepada-NYA karena Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Dengan demikian kita tidak akan pernah berputus ada menghadapi kehidupan ini, dengan segala kondisi apapun. Allah berfirman : dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut : 69)

Nabi bersabda : “kana al-faqru an yakuna kufran” artinya kefakiran lebih dekat kepada kekufuran. Apa yang disampaikan oleh nabi Muhamad memang begitu adanya. Seseorang yang kekurangan harta (miskin) sangat rentan untuk menukar keimanan mereka dengan uang. Bahkan ada selintingan yang bahwa agama ditukar dengan satu dus mie. Naudzubillah

Hidup dalam kekurangan memang berat, tetapi harus dilandasi dengan sikap tawkkal kepada allah,  janji allah di dalam al-Qur’an “dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. At-Talaq :3)

Umar bin khatab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “seandainya engkau bertawakkal kepada Allah swt, niscaya ia akan memberimu rezeki seperti Ia memberi rezeki kepada burung, dimana burung itu terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali lagi dalam keadaan kenyang”

Syukur dan Tawakal
Diriwayatkan bahwa ketika ditanyakan tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari rasulullah saw, ‘Aisyah, dengan mengelurakan air matanya, seraya berkata, “manakah yang tidak mengagumkan dari beliau?” lalu ia menceritakan, “suatu malam, aku tidur bersama rasulullah saw di tempat tidur. Namun, belum lama kami tidur, tiba-tiba beliau membangunkan ku seraya berkata,’wahai putri abu bakar! Izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada tuhanku!’ aku jawab, “sebenarnya aku senang kau tetap berada disampingku, tapi kau labih mendahulukan keinginanmu.’ Maka bangunlan beliau dari tidurnya, lalu berwudhu’ dengan sempurna, dan akhirnya melaksanakan shalat malam. Malam itu beliau shalat sampai subuh, dan selama melaksanakan shalat itu, aku lihat beliau menitikan air matanya hingga basah bajunya. Aku bertanya ‘apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis, wahai rasulullah? Bukankan allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab,’tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyur?”

Abu utsman berkata, “syukurnya orang-orang awam adalah syukurnya terhadap nikmat makanan, minuman, dan pakaian. Sedangkan syukurnya orang yang khusus adalah syukurnya mereka terhadap nikmat ketakwaan didalam hatinya” ketika nabi idris mendengar kabar gembira tentang diampunkan segala dosa-dosanya, baliau memohon kepada allah swt agar dipanjangkan umurnya. “mengapa sampai demikian?” tanya orang-orang kepadanya. Beliau menjawab, “agar aku berkesempatan untuk bersyukur kepada-Nya. Sebab, selama ini aku hanya beramal untuk mendapatkan ampunan dari-Nya.”

Tawakkal adalah menyerahkan urusan kepada Allah, dan meyakini bahwa apa pun yang Allah berikan kepadanya tidak akan berpindah kepada orang lain, atau sebaliknya yang tidak menjadi jatahnya tidak mungkin ia terima. ...... dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".(QS. Al-Maidah : 23) Tawakkal itu bertingkat-tingkat, pertama tawakkal yakni bertwakkal terhadap janji-janji allah. Kedua, adalah taslim, yakni bertawakkal terhadap ilmu-Nya dan yang ketiga adalah tafwid, yakni bertwakkal terhadap takdir-Nya.

Dikatakan bahwa tawakkal merupakan permulaan dari tawakkal, taslim adalah pertangahannya, sedangkan tafwid adalah klimaksnya. Ada juga yang mengatakan bahwa tawakkal adalah sikapnya orang-orang awam, taslim adalah sikapnya orang-orang khusus sedangkan tafwid adalah sikapnya orang-orang yang lebih khusus lagi. Abu ali ar-Rudzbari berkata, “ada tiga tingkatan tawakkal, yaitu : pertama, bersyukur jika diberi, dan bersabar jika tidak diberi. Kedua, tetap bersyukur, baik ketika diberi maupun tidak. Ketiga, lebih menyukai tidak diberi karena tahu bahwa ia ada hikmah dari Allah bagi dirinya.”

Jika ditanya siapakah yang paling bersyukur dan bertawakkal? Jawabannya adalah Rasulullah saw. Walau sudah mendapat jaminan pengampunan dosa dari Allah beliau tetap bersyukur. Walau rasulullah sebagai seorang pemimpin tetapi beliau hidup dalam kesederhanaan, hartanya digunakan untuk kepentingan dakwah islamiyah, semuanya beliau serahkan kepada Allah. Jadi, jika ditanya siapakah yang pantas menjadi panutan kita dalam bersyukur dan bertawakkal maka Rasulullah saw adalah jawabannya. Wallahu’alam []

Hamzah Albantani
Divisi Pendidikan 
Lembaga Pengabdian Masyarakat